Transfer Pengetahuan Organisasi Pembelajar Perspektif Peter Senge
Transfer Pengetahuan Organisasi Pembelajar Perspektif Peter Senge Oleh: Denden Deni Hendri, SE., M.A.P (Kasubag Parmas dan SDM KPU Kota Banjar) Setiap penyelenggaraan pemilu dan pemilihan selalu meninggalkan jejak pengetahuan yang sangat berharga dalam bentuk remah-remah ingatan penyelenggara. Memori sebagai bentuk pengetahuan tersebut lahir dari pengalaman para penyelenggara dalam melaksanakan tahapan pemilu, mulai dari registrasi pemilih, sosialisasi dan pendidikan pemilih, komunikasi publik, pengelolaan partisipasi masyarakat, hingga penyelesaian berbagai permasalahan dan sengketa. Sayangnya, pekerjaan pemilihan tersebut acap kali tidak terdokumentasikan dengan baik. Pasalnya, pengalaman terbaik itu seolah menjadi milik pribadi lewat ingatan dan dipastikan hilang bila terjadi pergantian penyelenggara, rotasi, mutasi, purna tugas, maupun pensiun. Padahal dalam perspektif manajemen organisasi modern, ingatan kolektif dan pengetahuan organisasi merupakan bagian dari aset strategis yang bernilai. Oleh karenanya, menjadi penting transfer pengetahuan dan dokumentasi praktik terbaik yang pernah dialami tersebut demi menjaga keberlanjutan organisasi penyelenggara pemilu. Hal ini sejalan dengan konsep organisasi pembelajar (learning organization) yang dikembangkan Peter Senge dalam bukunya The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. Senge mengingatkan, mereka yang dapat meningkatkan kapasitas anggotanya untuk terus belajar, beradaptasi terhadap hal-hal baru, berbagai pelangaman sekaligus menciptakan pemahaman bersama akan mengokohkan organisasi tersebut bahkan berkembang. Dengan kata lain, tantangan bagi organisasi modern dan maju adalah menjaga keberlanjutan sejarah kelembagaan ini tetap terjaga dengan baik. Karena hal itulah yang kerap melanda berbagai lembaga termasuk organisasi penyelenggara pemilu. Setiap periode pemilu menghasilkan pengalaman yang berbeda-beda. Ada keberhasilan yang layak dijadikan contoh, tetapi ada pula kegagalan yang menjadi pelajaran penting. Ketika pengalaman tersebut tidak terdokumentasikan secara sistematis, organisasi kehilangan kesempatan untuk belajar dari masa lalunya. Fenomena ini menunjukkan bahwa organisasi sering kali masih bergantung pada pengetahuan individu (individual knowledge) dibandingkan pengetahuan organisasi (organizational knowledge). Ketika seseorang yang memiliki pengalaman panjang kemudian yang bersangkutan berpindah tugas atau pensiun, sebagian ingatan dan pengetahuan ikut menghilang ditelan waktu. Akibatnya, organisasi harus mengulang proses pembelajaran dari awal untuk menemukan kembali solusi yang sebenarnya pernah ada dan terbukti berhasil. Padahal setiap pengalaman empirik di lapangan sesungguhnya merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya. Karena itu, transfer pengetahuan perlu mendapat perhatian khusus untuk mencegah hilangnya memori kolektif organisasi, meningkatkan kapasitas kelembagaan, dan menjaga kesinambungan pengetahuan antar generasi penyelenggara pemilu. Organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang bergantung pada figur individu, melainkan organisasi yang memiliki memori kolektif dan sistem yang kuat. Memori kolektif merupakan kumpulan pengalaman, sistem nilai, pengetahuan, dan pembelajaran yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Dalam teori organisasi pembelajar, memori kolektif menjadi fondasi penting bagi proses pembelajaran berkelanjutan. Peter Senge juga menyinggung pentingnya membangun shared vision atau visi bersama sebagai salah satu disiplin utama organisasi pembelajar. Berbagai pengalaman dan memori kolektif yang berserakan selama tahapan harus diramu menjadi bagian dari sistem keunggulan organisasi penyelenggara. Dalam konteks organisasi penyelenggara pemilu, organisasi pembelajar adalah organisasi yang secara terus-menerus memperluas kapasitas kelembagaannya untuk menciptakan hasil yang diamanatkan konstitusi, memelihara pola berpikir baru, serta meluangkan waktu untuk belajar bersama secara berkelanjutan. Sebuah organiasi kedepan akan semakin ditentukan oleh kecakapannya mengelola ingatan dan pengetahuan. Individu yang kompeten dan sumber daya anggaran yang jumbo tidak lagi cukup untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi organisasi. Selain itu, sangat penting agar pengetahuan yang biasanya hanya berada dalam kepala seseorang dijadikan milik bersama, dikodifikasikan, dan saling terkait. Pengembangan kapasitas individu dan kelembagaan sebagian besar melibatkan proses pemindahan pengetahuan. Memformalkan pemindahan pengetahuan, setiap pengalaman yang pernah ada menjadi peluang untuk belajar dan meningatkan kapasistas organisasi organisasi. Dengan demikian, kita akan menyadari bahwa kesalahan bukanlah jalan buntu, melainkan pintu menuju pembelajaran. Seperti yang disampaikan Peter Senge, organisasi yang dibekali anggaran besar dan pemimpin yang lebih kuat bukanlah garansi organisasi tersebut bakal bertahan. Kemungkinan besar justru cepat usang. Teori tersebut penting untuk dicamkan, terutama bagi lembaga penyelenggara pemilu yang acapkali dihadapkan dengan perubahan dalam lingkungan sosial dan politik, perkembangan teknologi informasi, serta meningkatnya ekspektasi publik. Praktik berbagi pengetahuan dan pendokumentasian sangat vital dalam perjalanan organisasi pembelajar. Upaya semacam ini memastikan tidak ada jeda dalam sejarah kelembagaan, ingatan kolektif terpelihara, ketahanan dan kemampuan beradaptasi kelembagaan dibangun, serta organisasi tetap tangguh terhadap perubahan terencana maupun tidak yang terjadi dari waktu ke waktu. Sebagai penutup, ketahanan organisasi tidak hanya dipertaruhkan bagi mereka yang memimpin saat ini, tetapi juga bergantung pada seberapa baik organisasi dapat meneruskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika setiap detail tahapan yang mengandung pembelajaran tersebut terdokumentasi dengan baik sehingga bisa ditransmisikan kepada generasi selanjutnya, organisasi yang demikian akan menciptakan cadangan pengetahuan yang dapat terus diambil untuk mendorong kemajuan dalam pengembangan organisasi, arah pembelajaran, dan perannya dalam melayani demokrasi.
Selengkapnya