Pemilu Inklusif Tak Cukup Regulasi, Butuh Kerja Sosial Panjang dan Empati

BANDUNG - KPU Provinsi Jawa Barat kembali menggelar Forum Parmas Insight #Chapter 11 dengan tema “Disabilitas dan Aksesibilitas Pilkada: Sosialisasi Inklusif untuk Pemilih Rentan”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (7/1/2026).

Forum tersebut diikuti jajaran Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM dari 27 KPU kabupaten/kota se-Jawa Barat, KPU Provinsi Kalimantan Tengah, serta unsur Sekretariat KPU Provinsi Jawa Barat. Hadir membuka kegiatan Kadiv Sosdiklih Parmas KPU Provinsi Jawa Barat, Hedi Ardia, didampingi Kabag Parmas dan SDM Yunike Puspita serta Kasubbag Parmas Fahmi Kamal.

Hedi Ardia dalam pengantar diskusinya menegaskan bahwa Parmas Insight telah berkembang menjadi ruang strategis dipandang telah bertransformasi menjadi “laboratorium gagasan” untuk menguji dan menyempurnakan ide-ide terkait pendidikan pemilih.

“Di forum ini, gagasan dapat diuji, dikritisi, bahkan digugurkan tanpa harus saling merasa dipermalukan. Inilah proses pembelajaran kolektif,” ujar Hedi.

Sebagai keynote speech, Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Provinsi Kalimantan Tengah, Harmain, menekankan pentingnya demokrasi inklusif yang menjamin kesetaraan hak pilih bagi seluruh warga negara. Ia menegaskan demokrasi tidak boleh hanya berorientasi pada suara mayoritas, tetapi juga memastikan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh akses dan layanan kepemiluan yang setara.

Forum kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan sesi diskusi. Hasan Basri, Ketua Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Kota Cirebon, dan Fajar Septian, Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Kabupaten Sumedang.

Menutup kegiatan, Hedi mengingatkan bahwa penyandang disabilitas bukan kelompok minoritas yang dapat diabaikan. Secara global, sekitar satu dari tujuh penduduk dunia merupakan penyandang disabilitas, sementara di Indonesia hak politik mereka telah dijamin oleh konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

“Pemilu inklusif tidak cukup disiapkan dengan regulasi dan anggaran. Ia membutuhkan kerja sosial yang panjang, kesabaran, dan empati,” tutupnya.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 267 Kali.