Peran Strategis Gen Z dalam Penguatan Demokrasi

BANDUNG - KPU Provinsi Jawa Barat kembali melaksanakan kegiatan Parmas Insight #Chapter 12 bertema Pemilih Pemula dan Generasi Z (Strategi Masuk Sekolah dan Kampus, Tantangan Era Digital) melalui Zoom Meeting, Rabu (21/1/2026).

Kegiatan yang menjadi edisi pamungkas rangkaian Parmas Insight ini diikuti jajaran Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM dari 27 KPU kabupaten/kota se-Jawa Barat serta unsur Sekretariat KPU Provinsi Jawa Barat. Acara dibuka oleh Kadiv Sosdiklih Parmas KPU Provinsi Jawa Barat Hedi Ardia, didampingi Kabag Parmas dan SDM Yunike Puspita serta Kasubbag Parmas Fahmi Kamal.

Dalam sambutannya, Hedi Ardia menegaskan bahwa lebih dari 30 persen penduduk Indonesia berasal dari Generasi Z yang pada Pemilu mendatang akan menjadi kelompok pemilih dominan. Oleh karena itu, kualitas demokrasi ke depan sangat ditentukan oleh tingkat pemahaman, kepedulian, dan partisipasi aktif generasi tersebut dalam proses pemilu. Ia menekankan peran jajaran Partisipasi Masyarakat tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga fasilitator dialog dan penjaga kualitas demokrasi.

Sebagai keynote speech, Sekretaris Diskominfo Pemprov Jabar, Bayu Rakmana menyampaikan perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap Generasi Z yang tumbuh di era digital dan rentan terhadap disinformasi. Sosialisasi Pemilu, menurutnya, perlu menekankan pembentukan kesadaran demokrasi, tidak hanya aspek prosedural.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi bersama Achmad Firdaus (KPU Kota Depok), Abdur Rozaq (KPU Kabupaten Bandung), dan Seni Soniansih (KPU Kota Sukabumi), yang dipandu Yusti Rahayu dari KPU Kota Cimahi.

Menutup kegiatan, Hedi Ardia mengingatkan Ia berharap diskusi Parmas Insight tidak berhenti sebagai wacana semata, tetapi dapat menjadi pemantik kerja nyata yang berdampak bagi penguatan kelembagaan ke depan dan tetap harus meningkatkan kapasitas diri. 

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas internal satuan kerja, khususnya hubungan antara komisioner dan sekretariat. “Tidak perlu ada yang merasa paling hebat, paling pintar, atau paling benar sendiri. Lembaga ini tidak bisa dibangun oleh ego personal, tetapi oleh kolaborasi,” tegasnya.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 148 Kali.