Making Democracy Count Bahas Matematika dalam Demokrasi
BANDUNG - KPU Provinsi Jawa Barat mengikuti kegiatan Bedah Buku Making Democracy Count: How Mathematics Improves Voting, Electoral Maps, and Representation karya Ismar Volić secara daring pada Selasa (12/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Provinsi Jawa Barat, Adie Saputro, bersama Ketua Divisi Perencanaan dan Logistik, Hari Nazarudin. Turut mendampingi Kepala Bagian Teknis Penyelenggaraan Pemilu dan Hukum, Sophia Kurniasari Purba, Kepala Subbagian Teknis Penyelenggaraan Pemilu, Gemayel Paulus Aruan, serta jajaran staf teknis KPU Provinsi Jawa Barat.
Demokrasi sering kali dipandang sebagai panggung ideologi dan kompetisi figur semata, namun Ismar Volić dalam bukunya Making Democracy Count mengungkap sisi yang lebih fundamental: kualitas demokrasi kita sangat ditentukan oleh angka dan logika matematika. Melalui ulasan mendalam, buku ini membedah bagaimana "mesin" penggerak pemilu yakni sistem konversi suara memiliki celah matematis yang jika tidak dipahami dengan baik, dapat memicu paradoks dalam representasi rakyat. Isu-isu seperti kelemahan plurality voting hingga praktik gerrymandering menjadi pengingat bahwa angka bukan sekadar statistik, melainkan penentu keadilan politik.
Volić menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari kelemahan sistem plurality voting yang memicu polarisasi, hingga praktik gerrymandering di mana peta pemilihan bisa "diretas" untuk memenangkan pihak tertentu tanpa perlu mengubah satu pun suara. Melalui lensa Teorema Arrow, kita diingatkan bahwa meski sistem demokrasi sempurna secara matematis sulit dicapai, kita memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaikinya demi mencapai representasi yang lebih adil dan akurat.
Menjadi warga negara yang peduli kini tidak lagi cukup hanya dengan mengenal calon; kita didorong untuk menjadi Citizen-Mathematician. Literasi numerik adalah alat perlawanan terhadap manipulasi sistem yang tampak adil di permukaan namun rapuh secara logika. Dengan memahami bagaimana suara diterjemahkan menjadi keputusan kolektif, kita bisa lebih kritis terhadap struktur demokrasi kita sendiri dan memastikan bahwa setiap suara benar-benar memiliki bobot yang semestinya.
Pada akhirnya, menjadi bagian dari demokrasi yang sehat berarti berani melihat melampaui surat suara. Kita diajak untuk menjadi warga negara yang melek sistem agar kedaulatan rakyat tetap terjaga di atas fondasi yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Sudahkah kita cukup memahami "matematika" di balik demokrasi kita sendiri untuk memastikan masa depan yang lebih adil