Notifikasi Yang Kutakutkan Pada Malam Hari
Notifikasi Yang Kutakutkan Pada Malam Hari
Oleh :
Yunike Puspita
(Kabag Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Jabar)
Selalu menghadirkan suasana yang mendebarkan disaat notifikasi grup WhatsApp kantor berbunyi pada malam hari. Pasalnya, beberapa tahun terakhir ini mengajariku bahwa pesan yang datang sekitar tengah malam biasanya bukanlah jenis kabar baik. Getaran itu kembali terjadi pagi ini, tepat setelah pukul satu lewat, Kamis 4 Juni 2026. Tangan ini sudah lama akrab dengan sensasi cemas—langsung mengeklik layar. Kali ini, nama yang muncul adalah Wawan Cahyana.
Ia bukan sekadar nama pada kartu ucapan belasungkawa: “Wawan Cahyana, S.Hut.” Bagiku, ia selalu Kang Dahoz cara kami menyapanya dan sahabat lama sejak 2010 saat masa Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Gol III Angkatan VII di KPU Jawa Barat. Bersama-sama kami berkembang dari anak magang yang masih polos dan mencari arah di sebuah institusi menjadi punggawa yang serius dalam peran masing-masing yang kami jalani. Kang Dahoz meninggal di Rumah Sakit Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Semoga ia pergi meninggalkan dunia ini dalam husnul khatimah, semoga Allah menerima seluruh amal dan ibadahnya, mengampuni kesalahan serta dosanya, dan memberinya tempat terbaik di sisi-Nya.
Terhitung sejak 6 September 2023 hingga 10 Maret 2026, Kang Dahoz menjabat sebagai Sekretaris KPU Kota Banjar atau unit kerja tempat sebelumnya aku bekerja sebagai Kepala Subbagian Keuangan, Umum dan Logistik, sebelum kemudian ditugaskan pada posisi tingkat provinsi. Ia pun merangkap sebagai Kuasa Pengguna Anggaran; orang yang bertanggung jawab terhadap pengeluaran anggaran setiap rupiahnya. Selanjutnya, ia pindah ke Sekretariat Provinsi KPU Jawa Barat sebagai Penelaah Teknis Kebijakan, tempat ia kembali bekerja satu atap denganku.
Sedangkan aku mengenal Niknik sejak 2016, ketika kami berdua dilantik pada saat yang bersamaan sebagai Kepala Sub Bagian — ia di KPU Kabupaten Majalengka, sedangkan aku sebagai Kepala Sub Bagian Keuangan, Umum, dan Logistik di KPU Kota Banjar. Kami seolah ditakdirkan menapaki anak tangga yang sama pada hari yang sama.
Tepat pada 31 Mei 2026 lalu, Niknik Ratna Suminar, S.H., meninggal akibat kanker payudara stadium empat. Seperti Kang Dahoz, jabatannya sebagai Kepala Subbagian Urusan Teknis Penyelenggaraan Pemilu dan Hukum saja tidak menjadi beban tunggal yang ia pikul. Di luar itu, ia juga mendapatkan amanah sebagai Pejabat Pembuat Komitmen—tanda tangannya mengikat setiap komitmen anggaran yang dibuat, proses pengadaan yang memerlukan pengawasannya, serta laporan yang tidak boleh meleset bahkan satu digit pun.
Mereka berdua adalah pekerja keras. Keduanya tinggal di Sumedang. Setiap hari kerja, Kang Dahoz, melakukan perjalanan pulang-pergi Sumedang–Banjar dengan jarak lebih dari seratus kilometer. Untuk sekali jalan—berangkat sebelum matahari terbit dan kembali setelah malam. Bu Niknik menempuh rute Sumedang–Majalengka. Setiap hari mereka mengukir jalan provinsi dengan semangat yang mendorong mereka, dan pada akhirnya Kang Dahoz menghembuskan nafas terakhirnya di Sumedang.
Aku ingin berhati-hati di sini. Aku tidak memiliki, dan tidak berencana mengada-ada, bukti medis bahwa beban kerja yang merenggut nyawa mereka adalah penyebabnya. Penyakit bisa disebabkan oleh banyak faktor yang berbeda, dan mengaitkan langsung beban kerja hingga kematian menjadi satu hal yang tidak adil bagi keluarga yang berduka atas kepergian mereka. Tapi, yang kutahu satu hal dari 16 tahun bekerja bersama mereka: jabatan ganda seperti Kang Dahoz dan Bu Niknik memaksa seseorang mengurus semuanya mulai dari anggaran, dokumen, tenggat waktu, perjalanan, audit kecuali dirinya sendiri. Lantaran tanggung jawab belum tuntas sehingga pemeriksaan kesehatan ditunda. Mengabaikan keluhan fisik, lantaran laporan pertanggungjawaban masih dinanti. Stadium empat tidak dating tiba-tiba; ia menimpa seseorang yang terlalu sibuk melindungi suara dan abai pada diri sendiri.
Ingin ku tegaskan bahwa keduanya bukanlah orang yang lalai terhadap tanggungjawab. Sistemlah yang membiarkan kelalaian itu terjadi pada diri mereka. Tidak ada batas jam kerja pada masa puncak tahapan. Tidak ada pembatasan tugas rangkap yang menumpuk di pundak satu orang. Tidak ada pemeriksaan kesehatan berkala yang menjangkau pegawai sekretariat organik. Tidak ada data yang mencatatnya ketika seorang Sekretaris atau Kepala Subbagian meninggal, kecuali seolah-olah kepergiaan mereka semata-mata persoalan urusan personal, bukan persoalan institusional.
Oleh karena itu, pesan duka yang sama hanyalah soal Waktu untuk kembali masuk pada grup percakapan yang sama. Aku tidak ingin terus cemas saat notifikasi tengah malam datang, direspon dengan ucapan bela sungkawa dan esok paginya Kembali menjalankan rutinitas seperti biasa. Cara menghormati Kang Dahoz dan Bu Niknik tak cukup sekadar ungkapan lewat karangan bunga dan rangkaian ucapan belasungkawa yang lirih, melainkan dengan keyakinan untuk mengubah cara kerja kita: menormalkan jam bekerja pada periode sibuk; menata ulang tugas-tugas yang menumpuk di pundak satu orang; mengecek kesehatan mereka yang memikul beban berat; dan pada akhirnya mulai menghitung—benar-benar menghitung—siapa yang kita kehilangan… Kenapa?
Selamat jalan, Kang Dahoz. Selamat jalan, Bu Niknik. 16 tahun, 10 tahun—terlalu singkat dibanding persahabatan, tapi cukup panjang untuk membantuku belajar betapa berharganya kalian. Kalian berdiri untuk demokrasi hingga napas terakhir. Kini saatnya kami memastikan agar dedikasi kami tidak perlu lagi dibayar dengan nyawa.
Catatan dari penulis: Ditulis sebagai kapasitas pribadi sebagai penghormatan untuk dua sahabat.